Part I
"Hal terburuk dalam hidup mencintai diam-diam sakitnyapun
diam-diam"
TERE LIYE
Kring..Kring..Kring..Kring.. Jam menunjukkan pukul 08.00.
Angka yang sangat menakjubkan untuk menyambut tes masuk Senior High School,
yang jaraknya terbilang sangat jauh dari perkampunganku. Umiku sudah ngomel
sedari tadi mirip seperti aktris aktris di televise yang memarahi pembantu
pembantunya. Kata-katanya sedikit memakai nada yang tinggi.
“ Buruan, sudah jam berapa ini” sambil memandangi arlojinya
“ Iya tunggu Umi nih juga baru mau ke kamar mandi”
Sepertinya gamis coklat dan jilbab coklat tema hari ini. Dan
jam sudah menunjukkan pukul 09.29 aku sendiripun sudah khawatir telat dan
melewatkan tes masuk senior high schoolku, untung sja ada seorang kenalan Umi
yang mengjar disana. Entah itu pukul 10 atau 11 yang jelas aku hanya berlari di
keramaian orang dan bertanya ruangan tes untuk anak experiment. Ohh amazing
hari ini sangat menyebalkan ruangannya dilantai dua, tidak membuang waktuku aku
berlari mencari ruangan, nafasku tidak beratutaran rasanya jantungku akan copot
karna berlari sekencang mungkin. Sesampai diruangan kursi telah penuh, terpaksa
harus duduk berduaan salah satu pendaftar di senior high school itu. Senyum
lebar terlukis dibibir mungilnya Dewi Williams
sebuah nama yang tidak begitu asing ditelingaku.
Ku pikir akulah yang terakhir masuk diruangan, ternyata ada
seorang pria lagi. Boy are small, short and he is enough hadsome menurutku
untuk saat itu. Entah kenapa aku sangat tertarik kepadanya, pria disudut
sana yang menggunakan celana kain dan
gamis hitam yang entah siapa namanya. Cerdas kelihatannya, berwibawa terlihat,
pria yang menyebalkan terlambat tapi yang paling cepat selesai pekerjaannya.
Entah otak apa yang telah Allah titipkan kepadanya
Setelah semua jawaban kuselesaikan dan akhirnya kuputuskan
ntuk mengumpulnya. Pengawas member kami kesempatan untuk istirahat. Ya perutku
memng sangat memprihatinkan, sudah dari tadi menyanyikan lagu daerah
KERONCONG-an. Sudah telat makan pagi tidak sarapan pula. Untungnya dalam area
pondok itu ada kantin. Sulit menemukan umi di karamain seperti ini untung
Handphoneku tidak kutitipkan pada umi pagi tadi, segera ku kirimkan message
pada umi. Entah seberapa banyak yang mengenal umiku dikawasan pondok ini, saat
aku menemukannya dia sedang berbincang beberapa orang yang nampaknya seorang
teacher disini, hingga makan siangkupun kutunda sampai pembicaraan mereka
selesai, hamper setengah jam aku menunggu percakapan mereka selesai tapi tak
kunjung selesao, akupun memutuskan untuk kekantin sendiri dibandingkan harus
menunggu mereka selesai bercerita yang akupun tidak tau apa yang mereka
certikan , keburu pingsan.
Saat aku menuju kantin tanpa sengaja aku melihat pria small
itu sedang berjalan sendiri karna sudah terlalu kroncongan aku tidak
melanjutkan kegiatanku untuk memperhatikanny. Entah seberapa lama aku
menghabiskan makananku,setelah selesai akupun membayar dan keluar dari kantin.
Saat keluar dari kantin aku bertemu Dewi dan Yuyun, oh ia aku
lupa menceritakan temanku yang satu ini Namanya Yuyun sosok wanita sabar dan
cantik rumahnya tidak terlalu jauh dari pondok, hobby yah mungkin sama
sepertiku writing, kembali lagi aku melihat pria small itu entah mengapa aku
hanya tersenyum sendiri melihatnya.
Tes keduapun dimulai,dilanjutkan tes holly Qur’an, dan hal
memalukan yang kulakukan adalah mengaji dan membesarkan suaraku seisi ruangan
seprti heran melihatku bahkan tertawa berpikir aku sangat ingin masuk dipondok
itu. Dan yah tanda pengenalku untuk saat ini adalah wanita terPD dan wanita
situkang ngaji cempreng. Peduli amat dengan perkataan mereka meskipun sedikit
rasa malu terbersik.
Tidak berselang waktu lama ada seorang ibu-ibu yang menengok
kekelas dan mungkin memastikan anakny ada didalam atau tidak, entah mengapa
jadi perbincangan dan bahan tertawaanku bersama Dewi dan Yuyun. Dan sumpah yang
paling greget tidak lama kemudian umikupun menengok kekelas melihatku.
Selesai tes mengaji selesai peserta diperkenankan untuk kluar
ruangan, namun belum sempat aku mendengar pria small itu mengaji umiku dari
luar ruangan mengajakku untuk pulang.
Setelah keluar ruangan
aku mendapati ibuku dengan salah seorang orang tua peserta. Sekali lagi dengan
perkataan yang sama “Seberapa banyak yang mengenali umiku?” setelah lama
menunggu percakapan mereka akhirnya aku memutuskan untuk berjalan ketangga
terlebih dahalu dan umiku pun tak lama kemudian menyusul.
Dalam
perjalanan aku menceritakan tentang pria small itu pada umiku, entah setan apa
yang merasuki pikiranku hingga seberani itu menceritakan pria itu pada ibuku.
“ Umi, aku bertemu pria small pendek
yang cerdas”
“Pendek tidak masalah asalkan smart,
yang masalah adalah pendek tapi tidak berisi”
Wow
amazing seperti tersindir dengan kata-kata umi, aku tidak melanjutkan ceritaku.
Part
II
"Karna kamu tidak akan selamanya dalam zona
nyaman dirumahmu"
Hari masuk sekolah baru akan dimulai, sibuk
menyiapkan pakaian yang akan ku bawa ke pondok, entah mengapa perasaanku
sedikit tak karuan, tidak ada kata bahkan kalimat yang dapat menggambarkan
perasaanku saat harus menginjakkan kakiku ditempat baru dan meninggalkan
kampong halamanku. Apalagi aku harus meninggalkan kebiasanku bertengkar dengan
sepupuku yang tinggsl dirumah Fhirda yang hamper setiap hari aku mengomelinya.
Mungkin aku akan sangat rindu dengan suasana dimana aku dan spupuku seperti Tom
& Jerry. Merindukan saat dimana kami berdua mendengar omelan Umiku yang
pulang kerumah dan rumah kotor dan berantakan seprti kapal pecah. Suasana ini
akan berbeda dngan suasana di pondok yang serba memakai aturan. “huh
membosankan” hanya itu yang terngiang dipikiranku.
Saat umi memasukkan semua perlengkapan yang
aku butuhkan dipondok kedalam koper saat itu beribu pertanyaan bermunculan
dalam benakku. Apakah umi membuangku kepondok? Umi tidak menyayangiku lagi dan
pertanyaan terbesarku adalah “apa umi tidak merasakan kehilangan saat aku
pergi? Tidak merasa sedih? Apa umi membuangku karna aku anak pemalas? Apa umi
tidak menyayangiku lagi? Begitu malang nasibku. Dan malam harinya aku hanya
mampu menangis meratapi nasibku yang akan dibuang.
Keesokan harinya mobil pamanku sudah
terparkir dihalam rumah, setelah menaikkan barang-barangku kedalam mobil,
mobilpun melaju perlahan. Oh God aku sangat merindukan semua kebiasaanku
disini. Sangat menyakitkan. Tapi entah mengapa ditengah perjalan aku sangat
menginginkan agar cepat sampai kepondok, sungguh Allah yang Maha
membolak-balikkan perasaan seseorang. Hampir dua jam perjalan akhirnya aku
sampai juga digerbang pondok. Dari kejauhan Nampak keramaian siswa bary baik
anak junior high school dan senior high school. Ada rasa kegembiraan yang
terselip, entah ada begitu banyak yang membuatku tersnyum.
Setelah selesai membereskan pakaianku
dilemari aaku dan umi berjalan keluar asram. Rasanya begitu mnyakitkan harus
berpisah dengan umi yang selama ini jarang berpisah. Setelah umi lama
berbincang dengan orang tua siswa umipun pamit pulang takut kemalaman, entah
kenpa aku tidak menangis bahkan membiarkannya pergi.
Setelah
umiku pergi aku mencari temanku Dwi dan Diandra,aku bertemu dengannya dan
berbincang entah mengapa aku kembali megusik pria small itu, dan mereka
menemukan informasi tentang pria small tu, sedikit tersipu raasanya, dia salah
seorang anak tunggal dari keluarga mapan dan hebatnya lagi adalah pria small
itu seorang prnghapal Al-Qur’an. Ketertarikankupun semakin bertambah.
Keesokan
harinya adalah ta’aruf pondok, kami
berkumpul diaula putri, aku mencari sosok pria yng aku kagumi itu, yha aku
menemukannya. Tidak jauh dari barisanku dihadapanku. Pakaian itu lagi celana
kain hitam dan gamis hitam. Selama ta’aruf pondok aku hanya memperhatikan gerak
geriknya. Dan ada hal lucu dalam ta’aruf pondok. Disaat ustads menyuruh anak
eksperiment berdiri entah karna dia small and short ustads mengatakan “ anak
senior high scholl yang bedir, junior duduk saja” serasa ingin tertawa tapi aku
tak bisa melakukan itu.
Jam istirahat aku, dwi dan Diandra duduk di
samping aula, entah mengapa aku melihatnya lagi, aku mulai berpikir aku
berjodoh dengannya. Dan pikiran itu membuatku sangat bahagia.
Part III
"Karna sesuatu yang dipaksakan tak akan baik"
Hari pertama
sekolah dengan seragam putih abu-abuku terselip rasa bangga mengenakannya, aku
tidak menyangka diterima di pondok ini, pondok yang menurutku luar biasa. Aku
berceretia dngan teman sekelasku dan mendapatkan informasi tentang pria small
and short namanya Thariq .
Awalnya semua
berjalan baik-baik saja hingga aku mencapai klimaks kerinduan pada umiku
tercinta.
Yang
kulakukan hanya menangis dan tidak bisa berbuat apa-apa. Hendphonepun tak
kumiliki sekrang, aku aku ingin pulang, aku merindukan keluargaku. Aku mencoba
menghubungi umiku untuk menjengukku lewat hendphone osis. Keesokan harinya
umiku datang menjengukku, tidak begitu lama, aku hanya bisa menangis ingin
pulang tapi tidak diizinkan.
Dalam jangka
cukup lama aku hanya menangis dan tidak masuk kelas. Malam ini ku putuskan ntuk
kabur dari pondok, tapi sayang tidak berhasil. Keesokannya aku berusaha lagi
tapi ditahan oleh kakak kelas dan ketemu ustads. Aku dibawa lagi kepondok. Aku
mencoba menelepon saudaraku tapi sedang keluar daerah. Sekian lama kabur dari
pondok akhirnya aku berhasil kabur.
Entah umiku
menangis atau tidak, yang jelas mereka mengatakan umiku menangis mencariku
dipondok. Aku tidak jauh dari rumah aku menginap dirumh shabatku , Aku membuka
jejaring social dihandphone shabatku dan kebetulan suami tanteku sedang aktif,
aku mempercayakan dan memberi tahu dia keberdaanku. Karna istrinya adalah salah
seorang tante kesayanganku. Malam harinya pamanku datang mencariku, entah ingin
marah, kecewa bahkan membenci suami tanteku yang jelas keberadaanku sudah
tercium.
Dan aku
kembali kerumah, muka marah,kecewa dan khawatir tergambar diwajah umiku. Aku
takut ntuk berbicara bahkan ntuk meminta maaf, aku memutuskan ntuk masuk kemar.
Keesokan harinya ibuku memberiku pilihan, dan memindahkanku. Sebenarnya ada
rasa bersalah pada umi dan ustadsah-ustadsah ku, akupun takut ntuk meminta
maaf.
Part IV
"Aksara ini masih terangkai untukmu"
Hari pertama
pindah sekolah, sekolah baru, teman baru, tapi tidak untuk perasaanku,
perasaanku masih ntuk pria small itu.
Sudah lama
aku tidak mengusiknya, aku menemukan akun facebooknya, aku segera mengaddnya
keesokan harinya sudah dikonfirmasi. Aku mencoba mengiriminya pesan. Entah tiga
kali atau empat kali aku mengiriminya pesan barulah dibalas.
“Assalamu’alaikum”
“wa’alaikumsalam”
“Kamu Thariq
kan? Dengar-dengar sudah khatam?”
“Alhamdulillah
sudah april yang lalu”
“ selamat
yah”
Hanya sebatas
itu, serasa ingin marah, kecewa tapi? Untuk marahpun tidak berhak. Semua
keakraban berwal dari postingan alay ala anak remaja yang ku buat. Dari
komentar-komantar mulai asik ngechat. Setiap pesan yang dikirim meski hanya
sebatas wa’alaikumsalam bahkan hanya kata iya memili mkna tersendiri direlung
hati terdalam. Malam ini aku sengaja menunggu shalat terawih selesai, waktu
dimana dia akan aktif dijejaring social.
“
Assalamu’alaikum professor”
“deh!! Ngak ada chat yang lain apa? Bosen lu mulu’.”
“ iya , tidak
akan saya usik lagi kehidupanmu. Maaf mengganguu”
“ hahahaha?
Cepatnya teringgung, sakit perutku ketwa.”
“ syukur deh
kalau lo ketwa”
“ maksud loh?
Sya ketawa karna saya barusan ketemu
cewek kayak Loh. Nyebellin, jutek, cepat tersinggung”
Setelah percakapan itu tidak berselang waktu
lama dia memposting status. Dari
postingan itu mulai tercipta perasaan bahwa dia memiliki perasaan yang sama
denganku.
J Thoriq Al-FatihJ
“suara hati
ini berteriak kepada Allah SWT” seraya berdo’a: kami bertemu karena-mu, dan
timbul rasa mahabbah diantara kami karena-mu. Dan kami berpisah karena-mu.ya Allah semoga engkau
buat kami ada dalam naungan ridha-mu selamanya.”
Ramadhan telah usai, menandakan libur
pondokpun telah usai. Rasa akan kesepian sudah terbayang dibanakku. Sebelum
berangkat kepondok aku sempat bertukar pesan.
“Sudahlah
Cukup sudah curahan2 hati yang kau tulis…
Kau Akn ku isi dalam ruang
kosong di dalam hatiku….
Tapi dengan 1 Syarat ;
Jangan
jadi orang yg cengeng hapus segala kesedihanmu itu
Dan terus Do’akan saya yah!! Heheheheeh J :’) :-D J J ”
“ saya kira kamu sudah ngak mau ngechat
saya?”
“ hhahaha saya bukan pria yang suka
membiarkan wanita sedih.”
“masa?
Jadi semua wanita dikasih harapan palsu dong?”
“apa kau melihat diwajah saya ada sebuah
tanda kemunafikan?”
“ ngak sih. Mana mungkin saya mengagumi orang
munafik. Mana mungkin my first love jatuh sama orang yang salah. Saya piker
kamu jutek awalnya, jadi saya kagum sama anak jutek yang terlambat datang waktu
tes dan identik dengan pakaian hitam.
“ sudah cukup kekagumannya nanti saya
lama-lama terbang ini”
“hhe jangan terbang dong”
“ Andai dipondok ada yang kagum sama kamu?
Kamu akan melupakan saya?”
“apa kamu tidak percaya pada first lovemu?”
“Percaya ia percaya” tapi banyak yang menyukai
kamu di pondok?”
“Tidak usah dipikirkan. Tidurlah dengan
tenang. OK. Good Night”
Itu adalah malam terakhir dimana aku akan
menahan rinduku dengannya sampai waktu yang entah kapan akan terbebaskan dalam
jeratan rindu dan keterbatasan waktu.
Dengan berakhirnya kabar dan kembalinya
Thariq kepondok. Sepertinya percakapan kemarin hanyalah sebatas angin lalu.
Setelah itu aku menunggu sesuatu yang tidak pasti.
PART V
"Laki-laki baik dy yang tidak pernah menyakiti wanitanya"
Selama Thariq dalam pondok, ada dua wanita
yang bermunculan, ada wanita bernama Ardillah dan Adillah. Ardillah adalah
wanita manja yang luar biasa bapernya, pertemun pertamanya bersama thariq ketika dipondok lama Thariq. Dan Adillah
bertemu dengan Thoriq pada saat lomba. Kecemasanpun semakin bertambah, siapa
salah satu dari merek yang akan menggantikan posisiku.
Dan
entah bgaiman ceritanya aku dekat dengan Ardillah, setelah sekian lama
menceritakan kisahnya dengan Thariq akupun berinisiatif menyembunyikan
perasaanku pada Ardillah. Akupun hampir tiap hari mendengar
curhatan-curhatannya terhadap Thariq. Namun sayang tidak berlangsung lama
Ardillah mengetahui perasaanku terhadap Thariq dan menemukan foto Thariq dalam
akun jejaring sosialku. Hanya maaf yang mampu aku katakan. Tapi semua sudah
terlanjur. Seketika hanya kebencian yang ada dalam diri Ardillah terhadapku.
Disamping itu Thoriqpun libur, entah siapa yg
akan terpilih dan mungkinkah aku akan dilepas. Tapi entah akupun lupa bagaimana
caraku terjatuh dan terhempas jauh dari kehidupannya
Meskipun thoriq tidak aktif akupun selalu
mengiriminya pesan disaat aku benar-benar merindukannya. Dan penyesal
terbesarku adalah disaat Thoriq aktif dan aku ketiduran. Dan disaat dia aktif
aku akan buru-buru menghubunginya.
“assalamu’alaikum, bagaimana ujiannya?
“wa’alaikumsalam,
Alhamdulillah baik, peringkat tiga, sorry yha baru bales sibuk sekarang, karna
osis ibadah. Yang kuperlukan do’amu”
“iya pak
prof. aku piker kau melupakan aku”
Dan yang menyebalkan adalah memutuskan percakapan tanpa
kata perpisahan. Aku hanya menggurutu dalam hati, sedalam itukah cintaku hingga
hal sekecil itu akupun merasa terabaikan dan merasa sangat kesal.
3 Februari
2014 aku benar sangat merindukannya sebulan sudah kulalui tanpa kabarnya. Dan
aku mengiriminya pesan meskipun tanda hijau tak ada dalam akunnya menandakan tidak
aktif.
“sesibuk
itukah professor THORIQ Al-Fatih?”
Empat hari
setalah aku mengiriminya pesan barulah ada balasan, akupun tak menyia-nyiakan
waktu yang sangat langkah itu.
“sibuk. Sibuk
banget.”
“sesibuk
itukah? Sampai-sampai lupa?”
“suatu saat kamu
akan mengerti kenapa bintang dilangit itu jauh dan tak bisa digapai”
“ciellah. Ya
sudah lupakan saja, mungkin aku sudah tergeser oleh ribuan fensnya”
“Oh tidak.
Hanya tawadhu, sifat Rasulullah”
Kalimat yang sangat menyakitkan, entah aku
akan terllepas dan terhempas jauh, yang jelas aku kecewa tapi tak bisa ntuk
berpaling. Ku lalui hariku tanpa kabarnya dan akupun tak menghubunginya lagi.
Tak kusangka dia mengirimiku pesan.
“Assalamu’alaikum,
bagaimana kabar?”
“Wa’alaikumsalam
bikhair, wa anta?”
“ana bikhair,
bagaimana hafalannya?”
“ Buruk”
“come on
FIGHTING, jangan main terus, masa tidak iri dengan lelaki hafiz dihadapanmu
ini.”
“bukan main
mulu bang, sibuk. Bagaimana hafalannya?”
“Lumaynan
tidak terlalu buruk, karena harus berjuang dizaman yang penuh kemaksiatan”
“yah keep
Fight J good luck. And bagaimana organisasinya?”
“lancar
Alhamdulillah”
“ yah good
luck”
“bagaimana
sekolahnya?”
“Alhamdulillah
baik”
“ana doa’akan
yang terbaik”
“syukran akhy
J saya pikir sudah lupa”
“oh ngak. Ada
yang ingin kukatakan, tapi tunggu waktu yang tepat. Hmm aku off dulu. Pokoknya
wait me tanggal tujuh jam segini. Ada yang ingin kukatakan. “
Aku hanya terfokus menunggu tanggal
tujuh,seperti biasa menunggu, smartphone tidak pernah lepas dari genggaman
berharap satu message dari Thariq. Hanya sebatas itu, imajinasiku menjadi
berbunga dan menerawang. Entah apa yang akan dikatakan. Hari terasa sangat
lama, jam terasa begitu lama berputr dalam porosnya. Semua kini hanya terfokus
pada hari Jum’at.
Tapi belum sampai
tanggal tujuh thariq sudah mengirimiku message dan mengundur waktunya.
Tanggal 14
kembali menyapa, tanggal dimana dia menetukan waktunya, tapi entah kenapa
diundur terus, sampai kalimat terburuk itu tertulis dalam messagenya/
“aku hanya
takut, seandanya kemauan kita bertolak belakang dengan takdir Allah,yang bisa
aku katakan adalah jaga dirim, brgitu juga aku akan ku jaga diriku.dan salin
menjaga agar tidak berujung pada kekecewaan. Apa jawaban yang aku berikan
membuatmu gembira. ?
Tapi entah kenapa bukan kalimat itu yang kuiinginkan dan
rasa kecewa,amarah sudah bercampur aduk dalam hatiku, aku hanya membalasnya
dengan kasar, meski kutau akn berakibat fatal.
“saya akan
jalani hidupku tanpa kamu, tanpa sosok kamu lagi, jalani hidupmu dengan tenang
disana. Diluar sana akan ada yang lebih menghargai aku.akupun sadar tiada
kepantasan untuk menemnimu, orang secerdas kamu. Semoga kamu dapat yang terbaik
dari yang baik.
Dan saat itulah kamipun lepas kontek, tak
berapa lama ku dengar kalau dia akan menikah dengan Adillah, sebuah kabar yang
begitu menyakitkan, entah mengapa serasa tubuhku susah ntuk kuimbangi. Yang ku
lakukan hanya menangis diheningnya malam yg terpecah oleh tangisanku
Mungkin aku hanya tercipta sebagai pengagum
dari ciptaaan Tuhan yang satu ini. Kehadirannya hanya ntuk mengetahui bahwa dia
tercipta bukan ntukku, dan hadir hanya ntuk membuatku mngerti aku belum begitu
baik untuk mendapatkan seseorang seprti dirinya.
PART VI
cinta adalah perbuatan. Kata-kata dan tulisan indah adalah omong kosong
Tere Liye
setelah mendengar kabar itu aku hanya mampu menangis dan bersabar,
marahpun tak akan merubah segalanya. Kecewapun tak ada artinya. Pertanyaanku
ntuk yang sekarang adalah mengapa aku harus yang pertma dalam kehidupanmu jika
akupula yang pertama yang kau singkirkan dalam kehidupanmu. ?
semua seperti mimpi buruk ntukku, serasa baru kemarin kedekatan kita
terjalin. Secepat itu harus berakhir. Kata-katamu masih merasuki pikiranku.membayangi
tiap gerak gerikku. Serasa hancur dalam harapan. Semua harapan tinggal
puing-puing kebencian. Yang ada dalam benakku adalah bagaimana menunjukkan
bahwa kamu telah melepas seorang yang sangat berarti, kamu melepas orang yang
salah. Akan kutunjukkan padamu. Akan ku buat kau menyesal dengan Bismillah.
Comments
Post a Comment