Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2018

Hujan

Hari ini hujan... Membuat perut semakin memaksaku untuk makan, lagi dan lagi. . Juga, mengingatkanku dengan keras tentang kamu dan kenangan-kenanganmu..

15 Februari 2018

Semalam , tapatnya pukul 23.45. Amarahmu membuncah... Aku takut, tapi aku bersikap biasa-biasa saja. Agar, aku tidak terbawa arus amarahmu. Kamu mengolok-olok dan menghakimi ku tanpa rasa ampun ataupun belas kasihan.  Seakan kamu akan menerkam hatiku dan memberiku sayatan-sayatan dahsyat. Benar, kamu menerkamnya dan sayatannya masih membekas pagi ini. Aku memilih diam. Aku menunggu amarahmu mereda, maaf aku bukan lagi perempuanmu malam itu. Maaf, sebisaku meredam amarahmu tapi kebencian menguasaimu. Malam itu aku mengemis, lalu pada akhirnya tersungkur dan jatuh sejatuh-jatuhnya. Kebengisanmu menyadarkanku, amarahmu membuatku takut merangkul cintamu lagi Aku mencintaimu, tanpa sadar menyakitimu. Kamu mencinta ku, katamu. Tapi malam itu aku benar-benar tidak melihat ada cinta di balik pesan-pesan singkatmu. Katamu karma sedang menyapaku. Katamu bohongmu adalah karmaku. Dan kataku setia ku adalah bentuk aku memelukmu dan karma yang kamu berikan. Biasanya aku baik-baik...

Milea

Malam ini hatiku risau. Entah kenapa setelah membaca buku-buku kang Pidiq aku takut akan berakhir seperti Milea. Itu saja  Rasanya aku rasakan posisi Milea, hancur pastinya. Bagaimana tidak? Sudah memberi kenyamanan senyaman-nyamannya lalu berakhir naas senaas-naasnya.

Aku

Aku manja katamu.  . Mencangkul halaman depan saja mengeluh. Menyekop kerikir-kerikil dihalaman rumah sudah ngambek. Setiap hari harus ditemani makan dengan ibuku, katamu aku alay. Tidak, sama sekali tidak... Aku menghabiskan waktuku mengeluh, mencari perhatian ibu. . Sebab, kelak aku takut terlalu menyesal saat waktu dimana aku tidak lagi mampu melakukan itu. . Walaupun kita semua tahu, tidak akan pernah puas dengan perhatian ibu kita. Namun, aku sangat berharap waktu itu masih sangat lama.