Semalam , tapatnya pukul 23.45. Amarahmu membuncah... Aku takut, tapi aku bersikap biasa-biasa saja. Agar, aku tidak terbawa arus amarahmu. Kamu mengolok-olok dan menghakimi ku tanpa rasa ampun ataupun belas kasihan. Seakan kamu akan menerkam hatiku dan memberiku sayatan-sayatan dahsyat. Benar, kamu menerkamnya dan sayatannya masih membekas pagi ini. Aku memilih diam. Aku menunggu amarahmu mereda, maaf aku bukan lagi perempuanmu malam itu. Maaf, sebisaku meredam amarahmu tapi kebencian menguasaimu. Malam itu aku mengemis, lalu pada akhirnya tersungkur dan jatuh sejatuh-jatuhnya. Kebengisanmu menyadarkanku, amarahmu membuatku takut merangkul cintamu lagi Aku mencintaimu, tanpa sadar menyakitimu. Kamu mencinta ku, katamu. Tapi malam itu aku benar-benar tidak melihat ada cinta di balik pesan-pesan singkatmu. Katamu karma sedang menyapaku. Katamu bohongmu adalah karmaku. Dan kataku setia ku adalah bentuk aku memelukmu dan karma yang kamu berikan. Biasanya aku baik-baik...