Perkenalkan namaku Nazaha Qotrunnada,
aku bertemu dengan mantan kekasihku sekitar 6 tahun yang lalu saat aku
mengunjungi kediaman sahabatku Ameera Risya.
Aku jatuh hati pada senyumannya yang indah, bibirnya perlahan
menyungging lembut menyapa, matanya yang indah dan berbinar. Rasanya waktu itu
aku ingin berlari memujinya.
Atthafaris Hizam Adnan, lelaki yang
membuat tidurku sedikit indah dan gelisah. Dia laki-laki yang membuatku
terpana, jika seseorang tidak percaya cinta pandangan pertama tidak denganku
aku mencintainya sejak hari itu juga.
Aku menanyakan tentangmu pada
sahabatku Ameera yang juga sepupumu, perihal mu, tentangmu, semua yang ada dan dia ketahui, semua yang
melekat padamu. Ia 6 tahun yang lalu sedang booming-boomingnya fb, aku tanpa
malu menanyakan nama fb dan mengirimimu permintaan pertemanan.
Sejak kamu menerima permintaan
pertemananku entah aku yang memulai dengan mengirimimu pesan apa, sudah terlalu
lama sejak aku menulis buku ini untukmu.
Yang sangat melekat adalah akun facebookmu ku stalking setiap hari, ku
baca semua status yang kamu kirim pada dinding facebookmu. Itu yang kulakukan
menandakan kekosanganku dan betapa aku menginginkanmu.
Sejak berjalannya waktu kita semakin
dekat, saling bertukar pesan, bertukar nomor telepon. Tapi tiba-tiba saja kamu
menghilang. Nomormu diluar jangkauan, pesanku di facebook tidak lagi
sehangat dulu. Ku pikir rasaku tak
terbalaskan. Aku berhenti.
Kamu menghilang. Entah sejak kapan
kamu mulai hangat padaku lagi. Aku terbang lagi, perasaan yang telah ku taruh
disudut hati perlahan menampakkan diri bahwa rasa itu masih ada.
Lalu seorang yang paras rupanya mengirim
salam hangat untukmu, aku diam kembali, mungkin kamu belum peka pada rasaku.
Nyaliku ciut kembali. Kalian pernah
berpacaran aku dengar itu dari Ameera. Aku kesal sendiri dan mengirim
pesan ke facebook mu untuk bertanya?
“ Cie yang pernah pacaran sama Kak Abqariah” kataku
“Hah?”
kamu keheranan
“ ih jujur gih, pernah pacaran kan?
Ucapku tanpa menjaga sikap well you knowlah perempuan sedang cemburu.
“ yang ngomong siapa? Tanyamu lagi
“ngk tau ah males, ngk usah chat-chat
aku lagi gih. Males banget sama kamu” ucapku sebal
Beberapa hari kamu mengirimiku pesan di
facebook namun aku sebisa mungkin mengabaikan pesanmu. Bukan tidak ingin
membalasnya, aku sedang kesal dengan ketidak pekaanmu. Meski hanya mengucapkan
hai selamat pagi, masih marah? Atau hanya sekedar mengatakan kamu sedang
menjemput Ameera di sekolah.
Saat jam pulang sekolah aku
tinggal beberapa jam karena menyelesaikan tugas yang akan dikumpul sore nanti,
bersama Ameera aku mengerjakan tugas dikantin belakang sekolah. Sambil basa-basi
Ameera bertanya bagaimana hubunganku dengan kamu (Adnan). Entah harus mengatakan apa, malu
dong marah karena cemburu dengan kakak kelas sedangkan aku sendiri bukan
pasangan kamu (Adnan).
“Ohh baik aja kok, tapi
akhir-akhir inikan lagi sibuk dia juga sibuk mau ujian kan?” ucapku
“ah masa sih? Kata Adnan kamu
mengabaikan beberapa pesannya di Facebook”
“ Yah kuota ku abis meer, maklum
akhir bulan uang jajan menipis”
“Kirain lagi ngambekan, udah
jadian tapi? Tanyanya memasang muka penasaran
“ Pacaran apaan, ogah ih pacaran
sama tukang PHP, malas banget pacaran sama mantan kakak kelas. Entar guanya di
embat lagi”
“idih yang nembak bukan Adnan
kali, yang nembak tetangga pake Fb Adnan, ya kali Adnan baru pertama kali ada
yang nitip salam makanya dikerjain, tapi Kak Abqariyah terima yah udah jalanin
aja. Tapi tau ngak Kk Abqariyah cuman bertahan 3 hari? Tau ngak kenapa?”
“ Yah ngak taulah, emang gua
dukun apa. Emangnya kenapa? “ Tanyaku
“ ya kali Kk Abqariyah mah cuman
mainin Adnan doang, muka polos kali dibego-begoin apapun juga mau. Makanya kk
abqariyah mutusin. Pacaran sama Adnan mah ngk seru”
“ Hahah, yang benner? Kasihan banget
tuh kk Adan” sambil tertawa lepas.
“eh udah selesai ngak? Yuk pulang.
Kamu naik angkot kan? Tanyanya
“ia, emang kenapa? Barengkan pulangnya?
“ Adnan juga baru selesai
praktek katanya, mau nebeng sekalian hemat uang angkot”
“oh yah udah, duluan aja gih
sana”
“ oh ngk usah bareng aja
keluarnya, kata Adnan rindu gih mau liat gebetannya”
“Gebetan apaan. Ya kali males
banget, cowok ngk peka kayak dia mending di museumkan aja”
“ hahaha maklum di amah kaku
orangnya, yuk balik Adnan juga nunggu ditempat kamu ambil angkot kok”
“Oh ya udah, aku kasih ketua
kelas dulu yah tugasku” sambil berlalu
Dari
gang sekolah aku sudah bisa melihatmu,
ah rasanya ingin memutar arah saja. Sesampai depan Gang sekolah Adnan mulai
menyapa ah rasanya risih, kessal tapi rindu
“
Gimana kabarnya dek” tanyamu basi banget
“
Mmm baik” jawabku singkat
“Kenapa
pesan di FB ngak pernah dibales dek?
“
Oh lagi ngk ada kouta kk” jawabku berlagak risih
“
Tapi diread kok?” tanyamu
“
eh angkotnya udah datang kak, pamit yah. Meer duluan yah” ucapku sambil berlalu
Rasanya
sebal mengabaikanmu, tapi dengan sikapmu yang tidak peka membuatku tidak menyesal
telah melakukannya. Meski sangat
berharap Ameera membuatmu mengerti atau bahkan mengajarimu apa yang harus kamu
lakukan.
Ah rasanya kesal
Comments
Post a Comment